-

Selasa, 28 Januari 2020

Warna



Dulu, hidupku adalah kanvas
yang kau isi tanpa bertanya.
Langit biru karena tawamu,
pagi kuning sebab langkahmu pulang.

Kini, aku berdiri di depan warna
yang tak lagi mengenalku.
Merah menjadi terlalu sunyi,
biru terlalu dalam untuk kuseberangi.

Aku mencoba mengingatmu
lewat warna matahari senja,
tapi jingga hanya mengajarkanku
cara pamit yang tak pernah selesai.

Hitam datang tanpa suara,
bukan untuk menakutiku,
melainkan untuk berkata:
kehilangan tak selalu gelap
kadang ia hanya kosong.

Putih pun berubah makna.
Bukan lagi awal,
melainkan sisa-sisa kenangan
yang tak sempat kita selesaikan.

Setiap warna kini menyebut namamu
dalam bahasa yang tak bisa kuucap.
Aku belajar hidup
dengan palet yang pincang,
melukis hari-hari
tanpa warna yang paling kuperlukan.

Jika suatu saat aku tersenyum lagi,
itu bukan karena lukaku hilang,
melainkan karena aku telah berdamai
dengan warna yang kau tinggalkan
di dalam dadaku.

Hujan



Hujan turun tanpa suara perintah,
ia hanya jatuh
seperti rindu yang tak sempat meminta izin
pada logika.

Di atap rumah, ia mengetuk pelan,
seakan bertanya:
masihkah kau ingat
pada hal-hal yang pernah kau doakan diam-diam?

Jalanan basah memantulkan cahaya lampu,
dan aku melihat diriku sendiri
retak di sana
sebuah kenangan yang larut
namun tak pernah benar-benar pergi.

Hujan tahu caranya menyimpan rahasia,
ia menghapus jejak,
tapi meninggalkan bau tanah
yang membuat hati tiba-tiba ingin pulang.

Di antara tetes-tetesnya,
ada luka yang belajar menjadi tenang,
ada kehilangan yang akhirnya berani
menyebut namanya sendiri.

Maka biarkan hujan jatuh lebih lama malam ini,
biar ia membersihkan
apa pun yang terlalu lelah
untuk kita jelaskan dengan kata-kata.

Karena tidak semua yang basah
ingin segera kering
sebagian hanya ingin didengarkan
sampai reda.

Rabu, 01 Januari 2020

Bunga



Bunga yang Pernah Mekar
Di suatu pagi yang tak lagi sama,
aku menemukan bunga
tumbuh diam di sudut ingatan.
Warnanya tak berteriak,
namun wanginya cukup
untuk memanggil namamu
tanpa suara.

Kau pernah hadir
seperti musim yang tahu caranya tinggal.
Tak tergesa,
tak menjanjikan keabadian,
namun cukup lama
untuk mengajari hatiku
apa arti pulang.

Bunga itu dulu kau rawat
dengan sabar yang tak pernah kau pamerkan.
Kau percaya,
segala yang dirawat dengan cinta
tak harus selamanya dimiliki.
Ia hanya perlu tumbuh,
lalu mengajarkan kehilangan
dengan cara paling lembut.

Kini aku berdiri sendiri
di depan kelopaknya yang gugur.
Bukan untuk meratap,
melainkan mengingat
bahwa pernah ada seseorang
yang membuat hidupku
berani berbunga.

Jika suatu hari angin bertanya
mengapa aku masih tersenyum
saat kenangan menyakitkan,
akan kujawab pelan:
karena bunga tak pernah menyesal
pernah mekar,
meski akhirnya layu.

Dan kau—
adalah bunga itu.
Yang tak lagi hadir di genggamanku,
namun selamanya hidup
di taman paling dalam
di dadaku.