Aku meninggalkan jejak langkah
di tanah waktu yang tak pernah menoleh,
setiap tapaknya adalah ragu,
setiap jaraknya adalah doa yang nyaris patah.
Jejak itu tidak selalu lurus,
kadang berbelok oleh takut,
kadang berhenti oleh luka
yang tak sempat diajari cara sembuh.
Aku berjalan bukan untuk sampai,
melainkan untuk mengerti—
bahwa jatuh pun adalah bentuk maju,
dan diam pun pernah menjadi perjalanan.
Angin membaca jejak kakiku
seperti rahasia yang disimpan bumi,
lalu menghapusnya perlahan
agar aku tak terikat pada masa lalu.
Namun ada langkah yang abadi,
bukan di tanah, bukan di debu,
melainkan di hati
orang-orang yang pernah kusinggahi dengan tulus.
Jika suatu hari aku hilang dari jalan,
biarlah jejak langkahku berbicara:
bahwa aku pernah berani melangkah,
meski dunia tak menjanjikan pulang.







0 komentar:
Posting Komentar