Malam menutup luka dengan selimut gelap,
lampu-lampu kota bergetar seperti doa yang ragu.
Di antara detak jam yang tersesat,
aku mendengar napas waktu—terengah, kelelahan.
Ada teriakan yang tak berani menjadi suara,
tersangkut di kerongkongan langit.
Ia lahir dari dada yang retak,
tumbuh dari kata-kata yang tak pernah selesai diucap.
Bintang pun memilih diam,
seolah takut ikut runtuh.
Angin membawa rahasia yang tak sempat ditangisi,
menyusup ke sela-sela sunyi,
meninggalkan dingin yang bernama rindu.
Malam adalah saksi paling setia—
ia tak bertanya,
tak menghakimi,
hanya menampung segala yang dibuang siang hari.
Dan di titik paling hening,
teriakan itu akhirnya jatuh sebagai air mata,
membasahi kesunyian,
lalu lenyap…
seperti aku yang belajar ikhlas
tanpa pernah benar-benar dimengerti.







0 komentar:
Posting Komentar