Di ujung malam yang kelelahan,
aku menemukan namamu
pada embun yang menggigil di daun.
Ia bening, ia sunyi,
namun menyimpan semesta kesabaran
yang tak pernah meminta dipahami.
aku menemukan namamu
pada embun yang menggigil di daun.
Ia bening, ia sunyi,
namun menyimpan semesta kesabaran
yang tak pernah meminta dipahami.
Ibu,
engkau adalah pagi
yang datang tanpa suara,
menyapu gelap dari mataku
dengan tangan yang tak pernah lelah,
meski hidup berkali-kali melukai punggungmu.
Seperti embun,
kau jatuh diam-diam
di antara kerasnya dunia.
Tak ada tepuk tangan
saat kau mengorbankan mimpi,
tak ada pujian
saat kau memilih lapar
agar aku belajar kenyang akan harapan.
Aku tumbuh dari doamu
yang kau sembunyikan di sepertiga malam,
dari air matamu
yang kau keringkan sebelum aku terbangun.
Kau ajarkan aku kuat
tanpa pernah mengajariku membenci luka.
Ibu,
jika hidup adalah pagi yang panjang,
maka engkau embunnya—
hilang sebelum disadari,
menguap sebelum dipeluk,
namun tanpamu,
tak akan ada kesegaran
untuk memulai apa pun.
Kelak,
saat aku menua oleh rindu,
aku akan mencarimu
di setiap pagi yang sunyi.
Pada embun yang jatuh perlahan,
aku akan berbisik pada dunia:
di sanalah ibuku,
cinta paling jujur
yang pernah Tuhan titipkan
dalam hidupku.







0 komentar:
Posting Komentar