Aku pernah berjalan dengan tangan terbuka,
menyapa dunia seperti fajar
yang tak tahu arti dikhianati.
Niatku sederhana:
menjadi baik tanpa syarat,
mencintai tanpa perhitungan.
Namun setiap langkah,
selalu ada luka yang menyapa lebih dulu.
Kata-kata tajam diselipkan di senyum,
kepercayaan dipatahkan
oleh mereka yang bersumpah melindungi.
Bayangan hitam itu tumbuh perlahan,
lahir dari malam-malam sunyi
saat aku belajar menelan tangis
tanpa suara.
Ia bukan amarah,
bukan pula dendam—
hanya lelah yang tak pernah didengar.
Aku tetap memilih terang,
meski gelap hafal namaku.
Tetap memberi,
meski tangan ini sering pulang kosong.
Karena menjadi baik
adalah caraku bertahan,
bukan kelemahanku.
Kini bayangan hitam itu berjalan di belakangku,
bukan untuk menelan,
melainkan mengingatkan:
bahwa aku pernah terluka,
namun tidak berubah menjadi kejam.
Dan jika suatu hari aku diam,
itu bukan karena hatiku mati—
melainkan karena aku sedang
menjaga sisa cahaya
agar tak padam sepenuhnya.







0 komentar:
Posting Komentar