Hujan turun tanpa suara perintah,
ia hanya jatuh
seperti rindu yang tak sempat meminta izin
pada logika.
Di atap rumah, ia mengetuk pelan,
seakan bertanya:
masihkah kau ingat
pada hal-hal yang pernah kau doakan diam-diam?
Jalanan basah memantulkan cahaya lampu,
dan aku melihat diriku sendiri
retak di sana
sebuah kenangan yang larut
namun tak pernah benar-benar pergi.
Hujan tahu caranya menyimpan rahasia,
ia menghapus jejak,
tapi meninggalkan bau tanah
yang membuat hati tiba-tiba ingin pulang.
Di antara tetes-tetesnya,
ada luka yang belajar menjadi tenang,
ada kehilangan yang akhirnya berani
menyebut namanya sendiri.
Maka biarkan hujan jatuh lebih lama malam ini,
biar ia membersihkan
apa pun yang terlalu lelah
untuk kita jelaskan dengan kata-kata.
Karena tidak semua yang basah
ingin segera kering
sebagian hanya ingin didengarkan
sampai reda.







0 komentar:
Posting Komentar