-

Sabtu, 07 Februari 2026

Teriakan Malam


Malam menutup luka dengan selimut gelap,
lampu-lampu kota bergetar seperti doa yang ragu.
Di antara detak jam yang tersesat,
aku mendengar napas waktu—terengah, kelelahan.

Ada teriakan yang tak berani menjadi suara,
tersangkut di kerongkongan langit.
Ia lahir dari dada yang retak,
tumbuh dari kata-kata yang tak pernah selesai diucap.

Bintang pun memilih diam,
seolah takut ikut runtuh.
Angin membawa rahasia yang tak sempat ditangisi,
menyusup ke sela-sela sunyi,
meninggalkan dingin yang bernama rindu.

Malam adalah saksi paling setia—
ia tak bertanya,
tak menghakimi,
hanya menampung segala yang dibuang siang hari.

Dan di titik paling hening,
teriakan itu akhirnya jatuh sebagai air mata,
membasahi kesunyian,
lalu lenyap…
seperti aku yang belajar ikhlas
tanpa pernah benar-benar dimengerti.

Jumat, 06 Februari 2026

Seperti Aliran Sungai


Aku belajar ikhlas
dari aliran sungai—
yang tak menuntut arah kembali,
dan tak menangisi apa yang telah dilewati.

Ia mengalir tanpa dendam,
membiarkan batu melukai diamnya,
sebab ia tahu:
luka bukan alasan untuk berhenti menuju.

Sungai tak bertanya
mengapa hujan datang lalu pergi,
ia hanya menerima,
bahwa tak semua yang singgah
ditakdirkan menetap.

Aku pun begitu,
mencintaimu tanpa menggenggam,
melepas tanpa membenci,
pergi tanpa menghapus jejak rasa.

Jika aku harus kalah,
biarlah itu kalah yang utuh—
tak menyisakan keluh,
tak menyimpan tuntutan pada takdir.

Sebab keikhlasan
bukan tentang melupakan,
melainkan berdamai
dengan kenyataan yang tak bisa diubah.

Dan seperti aliran sungai,
aku akhirnya paham:
yang benar-benar milik kita
tak pernah tersesat di perjalanan.

Ia akan sampai,
pada muara yang memang ditujukan untuknya. 🌊

Kamis, 05 Februari 2026

Jejak Langkah

 


Aku meninggalkan jejak langkah
di tanah waktu yang tak pernah menoleh,
setiap tapaknya adalah ragu,
setiap jaraknya adalah doa yang nyaris patah.

Jejak itu tidak selalu lurus,
kadang berbelok oleh takut,
kadang berhenti oleh luka
yang tak sempat diajari cara sembuh.

Aku berjalan bukan untuk sampai,
melainkan untuk mengerti—
bahwa jatuh pun adalah bentuk maju,
dan diam pun pernah menjadi perjalanan.

Angin membaca jejak kakiku
seperti rahasia yang disimpan bumi,
lalu menghapusnya perlahan
agar aku tak terikat pada masa lalu.

Namun ada langkah yang abadi,
bukan di tanah, bukan di debu,
melainkan di hati
orang-orang yang pernah kusinggahi dengan tulus.

Jika suatu hari aku hilang dari jalan,
biarlah jejak langkahku berbicara:
bahwa aku pernah berani melangkah,
meski dunia tak menjanjikan pulang.

Selembut Cahaya Rembulan

 


Di malam yang lelah memeluk sunyi,
kau hadir tanpa suara,
seperti rembulan yang tak pernah meminta langit
untuk mengakui sinarnya.

Kasihmu tidak gemuruh, 
selalu mengalir—
selembut cahaya yang menyentuh bumi
tanpa melukai gelap.

Dalam langkahku yang goyah,
kau berdiri di belakangku,
menjadi doa yang tak pernah lelah
menyebut namaku di setiap sujud.

Kau menanam sabar di dadaku,
menyiraminya dengan air mata
yang tak pernah kau pamerkan
pada dunia.

Saat dunia menolakku dengan dingin,
pelukmu adalah rumah
yang selalu terbuka,
tanpa tanya, tanpa syarat.

jika hidup adalah malam panjang,
maka kaulah rembulan itu—
tak pernah padam,
tak pernah pergi,
selalu setia menerangi jalanku
dengan cinta yang paling tulus.

Ibu 

Rabu, 04 Februari 2026

Tidak Semanis Madu



Kau datang membawa cahaya
dibungkus senyum dan janji
kata-katamu menetes perlahan
seperti madu di ujung lidah
manis…
namun tak pernah mengenyangkan hati.

Aku meneguknya tanpa ragu
percaya bahwa manis adalah tanda kejujuran
padahal di balik rasanya
ada pahit yang kau sembunyikan
di saku-saku kebohongan.

Setiap malam
aku merapikan harapanku sendiri
sementara kau merapikan dusta
agar terdengar lebih indah
saat diucapkan kembali esok hari.

Kau pandai merangkai kata
menyulam janji hingga tampak suci
namun tak satu pun yang benar-benar tinggal
semuanya singgah
lalu pergi, meninggalkan luka yang rapi.

Kini aku tahu
tidak semua yang manis adalah madu
ada yang hanya gula
larut cepat
dan merusak perlahan.

Aku lelah mencicipi kebohongan
yang selalu kau sebut cinta
jika ini rasa yang kau beri
biarlah aku belajar pahit
daripada terus dibuai manis yang palsu.

Karena hati
bukan tempat menyimpan dusta
dan aku
tak ingin lagi mencintai
sesuatu yang tidak semanis kejujuran.

Bayangan Hitam



Aku pernah berjalan dengan tangan terbuka,
menyapa dunia seperti fajar
yang tak tahu arti dikhianati.
Niatku sederhana:
menjadi baik tanpa syarat,
mencintai tanpa perhitungan.

Namun setiap langkah,
selalu ada luka yang menyapa lebih dulu.
Kata-kata tajam diselipkan di senyum,
kepercayaan dipatahkan
oleh mereka yang bersumpah melindungi.

Bayangan hitam itu tumbuh perlahan,
lahir dari malam-malam sunyi
saat aku belajar menelan tangis
tanpa suara.
Ia bukan amarah,
bukan pula dendam—
hanya lelah yang tak pernah didengar.

Aku tetap memilih terang,
meski gelap hafal namaku.
Tetap memberi,
meski tangan ini sering pulang kosong.
Karena menjadi baik
adalah caraku bertahan,
bukan kelemahanku.

Kini bayangan hitam itu berjalan di belakangku,
bukan untuk menelan,
melainkan mengingatkan:
bahwa aku pernah terluka,
namun tidak berubah menjadi kejam.

Dan jika suatu hari aku diam,
itu bukan karena hatiku mati—
melainkan karena aku sedang
menjaga sisa cahaya
agar tak padam sepenuhnya.

Embun Pagi


Di ujung malam yang kelelahan,
aku menemukan namamu
pada embun yang menggigil di daun.
Ia bening, ia sunyi,
namun menyimpan semesta kesabaran
yang tak pernah meminta dipahami.

Ibu,
engkau adalah pagi
yang datang tanpa suara,
menyapu gelap dari mataku
dengan tangan yang tak pernah lelah,
meski hidup berkali-kali melukai punggungmu.

Seperti embun,
kau jatuh diam-diam
di antara kerasnya dunia.
Tak ada tepuk tangan
saat kau mengorbankan mimpi,
tak ada pujian
saat kau memilih lapar
agar aku belajar kenyang akan harapan.

Aku tumbuh dari doamu
yang kau sembunyikan di sepertiga malam,
dari air matamu
yang kau keringkan sebelum aku terbangun.
Kau ajarkan aku kuat
tanpa pernah mengajariku membenci luka.

Ibu,
jika hidup adalah pagi yang panjang,
maka engkau embunnya—
hilang sebelum disadari,
menguap sebelum dipeluk,
namun tanpamu,
tak akan ada kesegaran
untuk memulai apa pun.

Kelak,
saat aku menua oleh rindu,
aku akan mencarimu
di setiap pagi yang sunyi.
Pada embun yang jatuh perlahan,
aku akan berbisik pada dunia:

di sanalah ibuku,
cinta paling jujur
yang pernah Tuhan titipkan
dalam hidupku.