Dulu, hidupku adalah kanvas
yang kau isi tanpa bertanya.
Langit biru karena tawamu,
pagi kuning sebab langkahmu pulang.
Kini, aku berdiri di depan warna
yang tak lagi mengenalku.
Merah menjadi terlalu sunyi,
biru terlalu dalam untuk kuseberangi.
Aku mencoba mengingatmu
lewat warna matahari senja,
tapi jingga hanya mengajarkanku
cara pamit yang tak pernah selesai.
Hitam datang tanpa suara,
bukan untuk menakutiku,
melainkan untuk berkata:
kehilangan tak selalu gelap
kadang ia hanya kosong.
Putih pun berubah makna.
Bukan lagi awal,
melainkan sisa-sisa kenangan
yang tak sempat kita selesaikan.
Setiap warna kini menyebut namamu
dalam bahasa yang tak bisa kuucap.
Aku belajar hidup
dengan palet yang pincang,
melukis hari-hari
tanpa warna yang paling kuperlukan.
Jika suatu saat aku tersenyum lagi,
itu bukan karena lukaku hilang,
melainkan karena aku telah berdamai
dengan warna yang kau tinggalkan
di dalam dadaku.







0 komentar:
Posting Komentar